Saturday, 13 October 2018

Tuan, Aku Menyerah

Kau kira, menunggu sejak musim hujan tahun lalu tidak melelahkan?
Aku mengerti keadaan kita yang tidak memungkinkan,
Namun setidaknya, bisakah kau memberikanku kepastian?

Tuan, kau ingat kalimatku perihal singgah tak berlabuh?
Ini bukan singgah tuan, ini gemuruh
Kau biarkanku menanti penuh peluh
Sementara kau, terus membangun anganku lewat kabar burung berpuluh-puluh

Tuan, aku sudah lelah,
Bagaimana aku bisa mengalah,
Jika kau sampaikan perasaanmu langsung padaku saja tak pernah

Namun, tak ku sangka
Di senja hari sejak ku tulis syair dan puisi,
Akhirnya kau curahkan isi hatimu padaku selama ini

Bahagia, haru, sedih tercampur satu
Namun, kau terlambat
Maafkan aku Tuan, aku menyerah.

No comments:

Post a Comment